Monday, November 23, 2015

[IDVolunteering] Dimana ada kemauan, disitu ada jalan



Pernahkah tiba-tiba terpikir, bahwa hidup yang dijalani sangat monoton dan membosankan? Pernahkah tiba-tiba bangun di pagi hari dan bertanya apakah cukup untuk hidup memikirkan diri sendiri saja? Atau pernahkah tersadar bahwa  sudah saatnya untuk melakukan hal yang lebih dari ini, yang bisa bermanfaat bagi orang lain, atau bahkan bisa mengubah dunia?

Pada saya, pikiran itu datang terlambat, setelah saya menikah dan memiliki dua orang anak balita. Di suatu pagi, saya merasa bahwa semua yang saya inginkan dalam hidup sudah terpenuhi. Betapa membosankannya memikirkan diri sendiri setiap hari. Dan saat itulah saya terpikir untuk mengajar anak-anak sekitar rumah.

Dimulai dari mengajak beberapa anak bermain di rumah sambil belajar bahasa Inggris, keesokan harinya rumah saya dipenuhi oleh 10 orang anak yang meminta diajarkan hal yang sama. Tak beberapa lama kemudian, tak kurang dari 50 anak berdesak-desakan untuk sekedar melihat-lihat, ikut bermain, diajarkan kosakata bahasa Inggris baru, minta dibantu mengerjakan tugas sekolah atau sekedar mebaca-baca koleksi buku anak-anak saya.

Kami menamakan rumah kecil kami ‘Fun House’. Sebuah rumah yang tadinya sepi, tiba-tiba menjadi ramai dan menyenangkan. Setiap sore, akhirnya saya dan dua anak saya sibuk meladeni keinginan belajar puluhan anak yang beragam. Dari membuat kue, belajar komputer,  mengenal keindahan negara lain dari video yang kami ambil di youtube, membuat prakarya dari bahan bekas, apa saja yang membuat mereka sibuk.

Dari situ, akhirnya terbukalah jalan saya bertemu dengan teman-teman relawan dari berbagai komunitas yang menawarkan diri untuk ikut mengajar di waktu luang mereka. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Kyra, teman dari Zack Petersen yang saat itu sedang mengumpulkan boneka-boneka untuk pasien kanker anak di hari ulang tahunnya.

Luar biasa!, pikir saya. Suatu ide sederhana yang menjadi viral hingga ribuan boneka terkumpul dan membuat banyak pasien kanker anak bahagia. Langsung terpikir untuk merayakan ulang tahun anak kedua saya yang kebetulan jatuh di bulan yang sama. Saya pun dihubungkan oleh Kyra dengan Bu Yeni Dewi Mulyaningsih, atau lebih akrab dipanggil Bu Yanie.

Dalam pertemuan dengan Bu Yanie lah saya belajar tentang keikhlasan paripurna. Betapa seorang ibu yang baru kehilangan anaknya karena Leukemia, mengikhlaskan kepergian buah hatinya. Menguji rasa sabarnya dengan kembali ke rumah sakit untuk mendampingi teman-teman sesama orangtua penderita kanker anak yang masih berjuang dan butuh bantuan. Mengabaikan perih hatinya melintasi kembali masa-masa berat di rumah sakit, demi menemani rekan seperjuangannya agar tetap semangat dan terus kuat agar buah hati mereka tidak gugur seperti anaknya dulu. Mencari donatur sendirian, mmberikan semua informasi yang dia tahu untuk orangtua pasien lain agar tidak tersesat di rimba rumah sakit yang begitu rumit.

Hati saya langsung tertambat pada keikhlasan Bu Yanie. Saya berjanji pada diri sendiri untuk membantu apa yang saya bisa agar perjuangan beliau tidak sendirian. Saya ingin menjadi relawan, kalau bisa selamanya.

Keinginan saya pun akhirnya terbalas dengan ajakan Bu Yanie untuk mendirikan sebuah komunitas untuk menjembatani pasien dengan relawan dan donatur yang bisa membantu. Tanpa pikir panjang, kami menyematkan nama Taufan pada komunitas baru tersebut.

Bermodal sosial media, satu persatu relawan datang untuk membantu. Meluangkan waktu untuk membahagiakan pasien di rumah sakit, dengan cara apapun mereka bisa. Hingga kini, Komunitas Taufan berkembang dengan lebih banyak relawan yang solid dan kompak. Mendampingi lebih dari 400 pasien dari berbagai kota yang dirujuk ke ibukota.

Kebanggaan kami sebagai relawan adalah ketika pasien membalas rasa sayang yang mereka rasakan. dengan rasa sayang yang lebih besar. Sebuah kepuasan yang tiada tara. Perasaan yang luar biasa unik dan menyenangkan.

Menjadi seorang relawan bagi saya adalah sebuah kebanggaan dan kenikmatan tiada dua. Berada dalam komunitas yang cocok adalah sebuah 'priviledge' yang jarang dimiliki orang lain, dan bersyukur saya telah menemukannya.


‘Relawan tidak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai’.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
There was an error in this gadget